Rabu, 25 Oktober 2017

Day 8

Kelas sudah berlangsung di hari ke delapan. Artinya, sudah harus memulai menulis minimal 500 kata per hari. Sebenarnya buat saya itu hal yang sulit, tetapi saya akan terus mencoba. 

Mungkin hari ini saya akan berbagi tulisan tentang tugas fisioterapi saja karena sembari menulis, saya juga ingin menulis tugas semester lalu sebagai bahan tulisan saya. Kali ini saya ingin membahas pronator syndrome teres. Selamat membaca.

Pronator Teres Syndrome (atau biasa disebut Pronator syndrome) adalah salah satu dari tiga syndroma jeratan saraf nervus Median, selain Carpal tunnel Syndrome dan Syndrome saraf Intrerosseous Anterior yang dimana Pronator teres ini sendiri merupakan Insidensi terbesar kedua setelah Carpal tunnel Syndrome, pada kasus jeratan Saraf  Nervus Median secara umum.

Otot Pronator teres adalah otot yang berada pada lengan bagian bawah. Sesuai dengan namanya, Otot ini berfungsi untuk melakukan gerakan pronasi lengan bawah. Salah satu kelainan yang sering terjadi berkaitan dengan otot ini adalah Sindrom Pronator teres, dimana menyebabkan rasa nyeri pada pergelangan tangan.

Pronator Teres Syndrome (PTS) pertama kali dikemukakan oleh Tiedemann pada tahun 1822, dan pada tahun 1848 Struthers adalah orang pertama yang menggambarkan struktur jeratan pada saraf medianus.

Pronator Teres Syndrome (PTS) adalah Jebakan neuropati terbanyak kedua setelah Sindroma terowongan karpal. Peningkatan risiko sindrom pronator dapat dikaitkan dengan kegiatan individu yang terlibat, gerakan berulang pada siku,  pergelangan tangan, dan gerakan tangan seperti memotong kayu, bermain olahraga raket, dayung, angkat berat, atau melempar. Namun, insidensi sindrom pronator pada wanita adalah empat kali lebih besar daripada laki-laki, menunjukkan bahwa anomali anatomi (variasi struktural) dan tidak berlebihan merupakan faktor risiko yang dominan. Lengan yang dominan kemungkinan besar akan terpengaruh, terutama jika individu berotot (hipertrofi otot). Sindrom pronator yang paling sering didiagnosis pada orang antara usia 40 dan 50.\

Gejala Klinis

Gejala lokal yang didapatkan:
a)       Rasa berat, kaku ataupun keram pada tangan.
b)      Kesemutan pada otot tenar ibu jari dan tiga jari di sampingnya.
c)       Nyeri pada area otot pronator teres pada siku atau lengan bawah saat otot berkontraksi.
d)      Nyeri dan kesemutan saat melakukan gerakan antagonis seperti pronasi dari lengan bawah dan fleksi dari pergelangan tangan.
e)      Disfungsi motorik dari otot yang diinervasi oleh kolateral distal dari N.Medianus (setelah persarafan meninggalkan otot pronator teres); sehingga otot pronator teres dapat tidak terkena disfungsi namun otot pronator quadrates yang terkena.
f)        Baal dan tebal pada sisi medial ibu jari dan sisi lateral telunjuk



Pemeriksaaan Fisik
Tes Provokatif spesifik pada Pemeriksaan Jeratan Saraf Median :
a)       Pasien berdiri dengan siku fleksi 90 derajat. Pemeriksa menempatkan satu tangan pada siku pasien untuk stabilisasi, dan tangan lainnya menggenggam tangan pasian pada posisi bersalaman. Pasien mempertahankan posisi ini, sementara pemeriksa melakukan supinasi pada lengan bawah pasien (memaksa pasien melakukan kontraksi pada otot pronator pasien). Sementara melakukan gerakan supinasi, pemeriksa juga melakukan ekstensi pada siku, dengan menarik genggaman ke distal.
b)      Jika terdapat nyeri atau ketidaknyamanan pada saat ini, maka dipastikan bahwa terdapat kompresi N. Medianus oleh pronator teres. (Pasien harus tetap merelaksikan siku pada saat tes, karena siku yang kaku akan menyulitkan pemeriksa pada saat ekstensi).

Penatalaksanaan Fisioterapi
1.      Ultra Sound
Penggunaan ultra sound pada kasus carpal tunnel syndrome adalahuntuk meningkatkan sirkulasi darah akibat efek micro massage yang ditimbulkan dan menyebabkan efek thermal sehingga menyebabkanotot relaksasi. Dengan diberikan gel dengan lama terapi 3 menit dari luas area 9cm2, dibagi ERA 3cm2, intesitas 1 watt/cm2.
2.      Infra Merah
Penggunaan infra merah pada kasus carpal tunnel syndrome adalah untuk menaikan temperatur pada jaringan sehingga menimbulkan vasodilatasi pembuluh darah selain itu pemanasan yang ringan otot akan menimbulkan pengaruh sedatif terhadap ujung-ujung syaraf sensoris. Dengan waktu terapi 15 menit dan jarak IR dengan area terapi 30-45 cm. Memenitor pasien setiap 5 menit.
3.      Terapi latihan
a)       Active exercise
Adalah gerakan yang dilakukan karena adanya kekuatan otot dan anggota tubuh sendiri tanpa bantuan, gerakan yang dihasilkan oleh
kontraksi dengan melawan gravitasi.
b)      Passive exercise
Adalah latihan gerakan yang dilakukan oleh bantuan dari luar dan bukan merupakan kontraksi otot yang disadari. Menurut Kisner and Colby (2007) gerak passive exercise menyebabkan efek penurunan nyeri akibat aliran darah lancar serta membuat daerah sekitar sendi menjadi rileks sehingga bisa menambah LGS dan menjaga elastisitas otot.
c)       Resisted active exercise
Resisted active exercise dapat meningkatkan kekuatan otot oleh karena jika suatu tahanan diberikan pada otot yang berkontraksi, maka otot tersebut akan beradaptasi dengan meningkatkan kekuatan otot akibat hasil adaptasi syaraf dan peningkatan serat otot (Kisner and Colby, 2007).



Related Posts

Day 8
4/ 5
Oleh