Kelas sudah berlangsung di hari ke delapan. Artinya, sudah harus memulai menulis minimal 500 kata per hari. Sebenarnya
buat saya itu hal yang sulit, tetapi saya akan terus mencoba.
Mungkin hari ini saya akan berbagi tulisan tentang tugas
fisioterapi saja karena sembari menulis, saya juga ingin menulis tugas semester
lalu sebagai bahan tulisan saya. Kali ini saya ingin membahas pronator syndrome teres. Selamat membaca.
Pronator Teres Syndrome (atau biasa disebut Pronator syndrome) adalah salah satu dari tiga syndroma jeratan
saraf nervus Median, selain Carpal tunnel
Syndrome dan Syndrome saraf
Intrerosseous Anterior yang dimana Pronator
teres ini sendiri merupakan Insidensi terbesar kedua setelah Carpal tunnel Syndrome, pada kasus
jeratan Saraf Nervus Median secara umum.
Otot Pronator teres adalah
otot yang berada pada lengan bagian bawah. Sesuai dengan namanya, Otot ini
berfungsi untuk melakukan gerakan pronasi lengan bawah. Salah satu kelainan
yang sering terjadi berkaitan dengan otot ini adalah Sindrom Pronator teres, dimana menyebabkan rasa nyeri pada
pergelangan tangan.
Pronator Teres Syndrome (PTS) pertama kali dikemukakan oleh Tiedemann pada
tahun 1822, dan pada tahun 1848 Struthers adalah orang pertama yang menggambarkan
struktur jeratan pada saraf medianus.
Pronator Teres Syndrome (PTS) adalah Jebakan neuropati terbanyak kedua setelah Sindroma
terowongan karpal. Peningkatan risiko sindrom pronator dapat dikaitkan dengan
kegiatan individu yang terlibat, gerakan berulang pada siku, pergelangan tangan, dan gerakan tangan
seperti memotong kayu, bermain olahraga raket, dayung, angkat berat, atau
melempar. Namun, insidensi sindrom pronator pada wanita adalah empat kali lebih
besar daripada laki-laki, menunjukkan bahwa anomali anatomi (variasi
struktural) dan tidak berlebihan merupakan faktor risiko yang dominan. Lengan
yang dominan kemungkinan besar akan terpengaruh, terutama jika individu berotot
(hipertrofi otot). Sindrom pronator yang paling sering didiagnosis pada orang
antara usia 40 dan 50.\
Gejala Klinis
Gejala lokal yang didapatkan:
a) Rasa berat, kaku ataupun keram pada tangan.
b) Kesemutan pada otot tenar ibu jari dan tiga jari di
sampingnya.
c) Nyeri pada area otot pronator teres pada siku atau
lengan bawah saat otot berkontraksi.
d) Nyeri dan kesemutan saat melakukan gerakan antagonis
seperti pronasi dari lengan bawah dan fleksi dari pergelangan tangan.
e) Disfungsi motorik dari otot yang diinervasi oleh
kolateral distal dari N.Medianus (setelah persarafan meninggalkan otot pronator
teres); sehingga otot pronator teres dapat tidak terkena disfungsi namun otot
pronator quadrates yang terkena.
f)
Baal dan tebal
pada sisi medial ibu jari dan sisi lateral telunjuk
Pemeriksaaan Fisik
Tes
Provokatif spesifik pada Pemeriksaan Jeratan Saraf Median :
a) Pasien berdiri dengan siku fleksi 90 derajat.
Pemeriksa menempatkan satu tangan pada siku pasien untuk stabilisasi, dan
tangan lainnya menggenggam tangan pasian pada posisi bersalaman. Pasien
mempertahankan posisi ini, sementara pemeriksa melakukan supinasi pada lengan
bawah pasien (memaksa pasien melakukan kontraksi pada otot pronator pasien).
Sementara melakukan gerakan supinasi, pemeriksa juga melakukan ekstensi pada
siku, dengan menarik genggaman ke distal.
b) Jika terdapat nyeri atau ketidaknyamanan pada
saat ini, maka dipastikan bahwa terdapat kompresi N. Medianus oleh pronator
teres. (Pasien harus tetap merelaksikan siku pada saat tes, karena siku yang
kaku akan menyulitkan pemeriksa pada saat ekstensi).
Penatalaksanaan Fisioterapi
1.
Ultra Sound
Penggunaan ultra sound pada kasus carpal tunnel
syndrome adalahuntuk meningkatkan sirkulasi darah akibat efek micro massage
yang ditimbulkan dan menyebabkan efek thermal sehingga menyebabkanotot
relaksasi. Dengan diberikan gel dengan lama terapi 3 menit dari luas area 9cm2,
dibagi ERA 3cm2, intesitas 1 watt/cm2.
2.
Infra Merah
Penggunaan infra merah pada kasus carpal tunnel
syndrome adalah untuk menaikan temperatur pada jaringan sehingga menimbulkan
vasodilatasi pembuluh darah selain itu pemanasan yang ringan otot akan
menimbulkan pengaruh sedatif terhadap ujung-ujung syaraf sensoris. Dengan waktu
terapi 15 menit dan jarak IR dengan area terapi 30-45 cm. Memenitor pasien
setiap 5 menit.
3.
Terapi latihan
a) Active exercise
Adalah gerakan yang dilakukan karena adanya kekuatan
otot dan anggota tubuh sendiri tanpa bantuan, gerakan yang dihasilkan oleh
kontraksi dengan melawan gravitasi.
b) Passive exercise
Adalah latihan gerakan yang dilakukan oleh bantuan
dari luar dan bukan
merupakan kontraksi otot yang disadari. Menurut Kisner and Colby (2007) gerak passive exercise menyebabkan
efek penurunan nyeri akibat
aliran darah lancar serta membuat daerah sekitar sendi menjadi rileks sehingga bisa menambah
LGS dan menjaga elastisitas
otot.
c) Resisted active exercise
Resisted active exercise dapat meningkatkan kekuatan
otot oleh karena jika suatu
tahanan diberikan pada otot yang berkontraksi, maka otot tersebut akan beradaptasi dengan
meningkatkan kekuatan otot akibat hasil
adaptasi syaraf dan peningkatan
serat otot (Kisner and Colby, 2007).
Day 8
4/
5
Oleh
mzulkarnainr.blogspot.com